Bisnis Sepi Banget , Omzet Turun Habis, Boro Boro Untung, Bertahan Hidup Saja Sudah Bersyukur Banget , Kalau Bangkrut Ya Pasrah Saja

Jadi pengusaha hari ini mumet habis, pusing tujuh keliling , sakit kepala habi habisan. Minum obat sakit kepala satu strip juga tidak akan mempan karena sumber sakit kepala bukan di badan tapi di bisnis yang lagi kelimpungan.

Konsumsi turun habis selama pandemi Covid 19. Banyak karyawan yang gajinya dipotong sehingga mereka mengurangi konsumsinya. Belanja hal hal yang tidak perlu dikurangi dan hanya belanja hal hal pokok dan penting saja.

Hal hal pokok paling banter adalah sembako, biaya internet, biaya pulsa, biaya listrik , air , biaya bahan makanan karena rata rata makan di rumah sehingga masak sendiri , biaya gas. Makan di luar dikurangi bahkan ditiadakan sehingga menghantam bisnis restoran dan rumah makan. Bepergian dikurangi bahkan ditiadakan sehingga menghantam bisnis tour travel, pesawat, angkutan antar kota . Belanja pakaian,kosmetik,sepatu dikurangi bahkan ditiadakan karena lebih sering di rumah. Kalaupun harus bekerja via zoom meeting cukup baju atasan saja yang kelihatan rapi, bawahan mau pakai celana pendek pun tidak problem , bertelanjang kakipun tidak problem. Di depan zoom meeting pakai kosmetik merek murahpun yang buatan lokal tidak problem karena toh tidak bekerja diluar sehingga lipstik yang dipakai tidak perlu yang tahan lama tidak luntur. Baju atasan juga tidak perlu baru , bahkan kalau sisi belakang baju atasan sudah agak luntur pun tidak problem , toh zoom meeting kan yang penting bagian depan baju saja.

Ngopi di luar seperti di kafe dikurangi dan paling banter minum kopi sachet atau kopi instant saja di rumah. Petani kopi jadi menjerit karena hasil panen banyak tidak terjual.

Ternyata di saat manusia hanya membeli barang yang dibutuhkan dan bukan barang yang diinginkan maka akan menjadi bencana bagi pengusaha. Aturan teori dari perencana keuangan selalu mengatakan belilah barang yang dibutuhkan , bukan barang yang diinginkan. Ternyata virus Covid 19 bisa menwujudkan aturan membeli barang yang dibutuhkan dan bukan membeli barang yang diinginkan. Hasilnya banyak pengusaha yang bangkrut dan gulung tikar, memperkecil skala usaha, megap megap mempertahankan bisnis tetap berjalan.

Di saat pandemi Covid 19 ini, pengusaha yang berekspansi dengan bahan bakar hutang bank adalah yang paling pertama terhantam keuangannya karena terjerat hutang dan walaupun sudah diberikan relaksasi ternyata tidak sanggup membayar bunga diskon yang diberikan , boro boro bisa bayar pokok.

Rata rata pengusaha tidak memiliki cadangan dana likuid alias uang tunai untuk bertahan disaat paceklik . Permainan pengusaha untuk berkembang dan maju rata rata sederhana yakni memainkan tempo perputaran piutang melawan tempo perputaran hutang . Artinya mengusahakan umur tagihan ke pelanggan lebih pendek daripada umur hutang ke supplier. Dan menggunakan hutang bank sebagai booster untuk melejitkan bisnis. Semua aset tetap yang dimiliki yang rata rata berbentuk properti rumah dan tanah disekolahkan ke bank alias dijadikan jaminan untuk memperoleh dana kredit bank.

Di saat pandemi Covid 19 ini , pengusaha mendapatkan bencana . Biasanya mendapatkan berkah kalau memiliki kredit bank dan kalau bisa kredit ank diperbesar terus setiap tahun. Hari ini pengusaha memperoleh bencana karena omzet turun drastis , tagihan ke pembeli banyak yang macet yang otomatis mempengaruhi pembayaran hutang ke supplier. Untuk menjaga agar arus uang tidak negatif habis , akhirnya mengambil keputusan hanya menjual dengan syarat tunai karena supplier juga mengharuskan bayar dulu baru dapat barang. Otomatis sudah omzet turun , makin turun lagi karena syarat tunai tersebut. Omzet turun , tagihan macet, hutang ke supplier jatuh tempo mempengaruhi arus kas dan otomatis mempengaruhi cicilan ke bank . Tidak ada arus kas positif pasti membuat pembayaran cicilan hutang ke bank tersendat. Boro boro bayar cicilan ke bank , bayar bunga ke bank saja sudah megap megap.

Semua biaya akhirnya dihemat, termasuk biaya gaji karyawan. Disinilah bencana kedua muncul , gaji karyawan dipotong disaat pandemi meruntuhkan semangat karyawan dan moral kerja karyawan. Semangat dan moral kerja adalah darah dalam persaingan bisnis. Karyawan yang lesu dan tidak bersemangat mempengaruhi kualitas layanan dan kualitas penjualan. Endingnya adalah omzet turun , bisnis makin terpuruk karena kualitas layanan dan kualitas produk hancur yang disebabkan kualitas karyawan yang menurun karena gaji mereka dipotong.

Lingkaran setan ini adalah buah simalakama yang harus diterima pengusaha. Pil pahit ini diperparah lagi oleh kondisi si pengusaha yang berusaha mendapatkan cash flow dengan mencoba melunasi hutang bank dengan menjual aset properti yang dijaminkan. Problem terbesar menjual properti di saat pandemi covid adalah pembeli menawar harga serendah mungkin karena beranggapan semua orang yang menjual properti pasti lagi butuh uang. Alhasil properti tidak terjual karena pengusaha tidak rela mengobral propertinya dibawah harga yang diinginkan si pengusaha.

Lingkaran setan ini akhirnya selesai saat si pengusaha di pailitkan oleh suppliernya atau bangkrut sendiri karena kehabisan dana.

Pailit karena si pengusaha ngotot tidak rela menjual aset properti yang dimiliki dengan harga murah seperti yang diinginkan pembeli yang semua menawar dengan harga murah sehingga dana tunai menipis. Bangkrut juga karena si pengusaha ngotot tidak rela menjual aset properti yang dimiliki dengan harga murah sehingga kehabisan dana.

Kalau ada pengusaha yang merasa kalau tulisan ini adalah khayalan semata dan tidak sesuai kenyataan , boleh protes ke saya . Berarti saya yang berkhayal dan anda sebagai pengusaha yang benar atau jangan jangan anda yang berkhayal bahwa bisnis lagi bagus banget, untung lagi besar besar , arus kas alias cash flow lagi positif banget, dana tunai di tangan lagi banyak banget . Stress berkepanjangan bagi pengusaha di saat pandemi Covid 19 bisa menimbulkan fatamorgana dan ilusi bahwa semua baik baik saja dan kemudian tiba tiba bisnis tutup dan bangkrut karena ilusi yang dihasilkan stress tadi.

Seperti apa kita dilahirkan adalah takdir

Seperti apa kita bertumbuh adalah proses

Seperti apa kita di masa tua adalah keputusan

Dimulai dari keputusan hari ini , apa saja yang akan kamu lakukan ?

Anda bisa hubungi :

Yan – Asuransi Allianz

Whatsapp : 0821 8732 8732

Email : bahagia@berbahagia.com

Bersiaplah Untuk Yang Terbaik – Prepare For The Best – Bukan Prepare For The Worst – Bukan Bersiaplah Untuk Yang Terburuk

Hari ini banyak dari anda yang menghabiskan lebih banyak waktu di rumah , di kamar kost , di apartemen daripada di tempat kerja atau di tempat anda berbisnis. Kenapa ? Karena pandemi Covid 19 membuat semua orang saling menghindar untuk bertemu dengan orang lain.

Acara keramaian seperti perkawinan kalaupun diperbolehkan , kita walaupun diundang belum tentu kita akan muncul. Apalagi acara duka seperti kematian, kita pasti berusaha menghindar dan tidak hadir di acara tersebut. Jadi di saat pandemi Covid 19 acara kegembiraan ataupun acara kesedihan , kita berusaha untuk tidak hadir.

Kita sebagai manusia adalah mahluk sosial yang suka bersosialisasi. Bersosialisasi via zoom meeting atau video meeting beda rasanya dengan bersosialisasi secara fisik bertemu muka.

Kantor rata rata menerapkan Work From Home dengan tingkat kehadiran fisik ke kantor dikurangi semaksimal mungkin

Karyawan banyak yang bekerja dari rumah. Karyawan banyak yang dipotong gajinya , dirumahkan, ditunda gajinya bahkan di phk karena pandemi Covid 19.

Disaat pandemi Covid 19, banyak pebisnis yang harus menutup toko ataupun menurunkan aktifitas bisnisnya karena kalau bisnis makin digenjot makin rugi malahan . Hari ini kalau berdagang , yang mau beli banyak sekali tapi rata rata minta tempo waktu untuk pembayarannya alias ngutang . Padahal hari ini berdagang memberikan hutang kepada pembeli sama dengan bunuh diri. Dengan memilih hanya berbisnis dengan pelanggan tertentu yang masih bagus pembayarannya , dan hanya melayani penjualan tunai ke pembeli yang tidak dikenal, maka otomatis omzet bisnis menurun habis.

Di saat pandemi Covid 19 kita diminta untuk mereset, menekan tombol ” Slow Down ” untuk aktivitas kita.

Berita berita dan info info yang bersliweran di internet, media sosial , whatsapp rata rata isinya semakin hari semakin negatif dan membuat pesimis tentang kondisi pandemi Covid 19. Ada yang mengatakan gelombang ke 2 Covid 19 akan tiba , ada yang bilang gelombang ke 3 Covid 19 akan tiba setelah gelombang ke 2. Ada info bahwa vaksin Covid 19 tidak bisa untuk yang usia lanjut karena usia lanjut tingkat kekebalan tubuh sudah menurun dan tidak bisa diaktifasi dengan vaksin.

Dengan kondisi bisnis terpuruk dan kondisi keuangan terpuruk tentunya sebagian besar dari kita bersiap siap untuk yang terburuk . Prepare For The Worst istilahnya. Kalau naik arung jeram atau naik wahana permainan seperti roller coaster pasti akan diteriakan siap siap pada saat kita akan memasuki bagian paling mengerikan dari permainan arung jeram atau roller coaster. Jantung berdetak kencang, ada yang tensi darah naik saat menantikan bagian permainan yang paling mengerikan tiba.

Kok tidak pernah ada yang mengatakan ” Siap Siap Untuk Yang Terbaik ” – ” Prepare For The Best ” ?

Padahal di saat pandemi Covid 19 kita diberikan waktu dan kesempatan untuk mengevaluasi perjalanan hidup kita sampai hari ini karena mendadak waktu kita menjadi sangat banyak karena kita jarang keluyuran keluar lagi.

Yang jadi karyawan , karena gaji dipotong, dirumahkan,diphk , menjadi memiliki waktu untuk melihat apakah selama ini hanya memakai kacamata kuda. Contoh : Yang kerjanya spesialis akuntansi karena lulusan akuntansi , memiliki waktu untuk mengevaluasi bahwa hidup tidak perlu sesuai label lulusan kuliah. Mencoba membuka bisnis konsultan sendiri , mencoba menjalankan profesi marketing, karena tidak ada kutukan lulusan akuntansi harus kerja di bidang akuntansi , lulusan teknik harus kerja di bidang teknik. Menambah wawasan baru selama pandemi Covid 19, menambah keahlian baru selama pandemi Covid 19 dengan mengikuti kursus atau training online , bergabung dengan komunitas yang profesinya nya berbeda dengan keahliannya, bergabung dengan komunitas pebisnis karena karyawan tidak harus berteman dengan sesama karyawan saja, karyawan boleh banget punya banyak teman pebisnis.

Yang jadi pebisnis , karena bisnis lagi terpuruk , mencoba menjajaki online untuk memasarkan bisnisnya , belajar hal hal baru tentang jualan online, cara membuat produk dagangannya ngetop di online, menambah wawasan bisnis lain selain bisnis yang digeluti. Contoh : Pedagang sparepart mobil kan tidak harus berkutat dagang sparepart mobil seumur hidup bukan ? Boleh mencoba mengintip bisnis lain di luar sparepart mobil.

Pandemi Covid 19 harus dilihat sebagai kesempatan emas bagi pebisnis. Banyak pebisnis senior yang sudah puluhan tahun menjalankan bisnisnya terpuruk saat ini. Berarti bagi pebisnis yang baru memulai berbisnis , atau baru berpindah ke bisnis baru, maka memiliki kesempatan besar untuk menjadi besar dan bersaing dengan pebisnis lama yang lagi terpuruk . Karena ibarat lomba lari, semua dimulai dari garis awal start lagi . Ibarat kalau isi bensin di pompa bensin, semua dimulai dari nol lagi. Pebisnis lama yang terpuruk kan harus memulai dari awal lagi dan pebisnis baru juga mulai dari awal. Ini adalah kesempatan besar bagi pebisnis baru atau pebisnis yang alih bisnis ke bisnis baru.

Jadi yang benar adalah PREPARE FOR THE BEST ATAU PREPARE FOR THE WORST ?

Seperti apa kita dilahirkan adalah takdir

Seperti apa kita bertumbuh adalah proses

Seperti apa kita di masa tua adalah keputusan

Dimulai dari keputusan hari ini , apa saja yang akan kamu lakukan ?

Anda bisa hubungi :

Yan – Asuransi Allianz

Whatsapp : 0821 8732 8732

Email : bahagia@berbahagia.com

Bisnis Anda Pasti Makin Suram , Karir Anda Pasti Makin Suram – Mau Bukti ?

Hari ini ada yang sudah memasuki usia 40 atau lebih dan berbisnis atau bekerja sebagai pegawai , pasti bisnis anda atau karir anda akan makin suram.

Ada perubahan besar yang tidak sanggup anda ikuti dan membuat anda hanya menjadi penonton saja.

Perubahan itu disebut DISRUPSI DIGITAL Alias DIGITAL DISRUPTION

Berikut adalah artikel tentang DISRUPSI DIGITAL dari Prof. Rhenald Kasali :

“Hidup Lebih Baik yang Belum Tentu Disambut Baik”

(Begitulah Shifting Terjadi)

oleh Prof. Rhenald Kasali

Mungkin inilah zaman pertemuan dua generasi yang paling membingungkan sepanjang sejarah. Ini bukan soal generasi kertas vs generasi  digital semata. Melainkan soal di mana dunia kita berada, sehingga ekonomi menjadi berubah arah dan banyak yang bangkrut. Ini juga bukan soal kebijakan ekonomi, ini soal teknologi yang mengubah platform hidup, ekonomi dan kehidupan.

Saya menyebutnya shifting, tetapi sebagian besar ekonom “tua” menyebutnya resesi, pelemahan daya beli dan seterusnya. Saya menyebut apa yang dilakukan generasi Nadiem Makarim sebagai inovasi, bahkan disruption. Tetapi manajer-manajer “tua”, bilang mereka “bakar uang.”  Mereka bilang retail online kecil, tapi anak-anak kita bilang “besar”..

Saya bilang mereka punya “business model,” tetapi regulatornya bilang itu sebagai industri predator. Maka regulasinya pun berpihak ke masa lalu.

Hari semakin petang saat satu persatu usaha konvensional berguguran, tetapi saya belum melihat yang tua ikhlas menerima proses shifting ini. Mengakui belum, blame jalan terus, tetapi usaha-usaha lama bakal berguguran terus.

 Dari Armada laut ke retail dan bank

Tiga tahun lalu kita membaca tentang keributan dalam industri jasa angkutan penumpang taksi. Di sini mulai ramai pertempuran antara ojek pangkalan vs. Gojek. Lalu antara pengemudi angkot dengan Gojek. Disusul demo sopir taksi melawan taksi online.

Tahun lalu, korbannya adalah angkutan laut dan hotel. Produsen kapal asal Korea (Hanjin) meminta perlindungan bangkrut. Lalu disusul oleh Maersk dan Hyundai. Setelah itu Rickmers Group (Jerman), Sinopacific Dayang, Wenzhou Shipping dan Zhejiang (China). Jumlah kapal yang dibutuhkan oleh perdagangan dunia sudah berubah menyusul penggunaan telekomunikasi dan aplikasi baru yang serba tracking dan perubahan pola peletakan industri global.

Setelah itu tahun ini kita melihat empat industri: Mainan anak-anak, retail, perbankan dan industri-industri tertentu. Level of competition meningkat, dan pendatang-pendatang tertentu masuk dengan platform baru. Industri mainan anak-anak Indonesia mengeluh penjualannya drop 30%, karena masih mengandalkan mainan berbahan plastik. Jangankan mainan anak-anak seperti itu, boneka Barbie saja pun kena imbas. Bahkan Toy ‘R’ Us di Amerika mengajukan pailit.

Sementara industri mainan anak-anak konvensional kesulitan, industri pembuatan game online di Indonesia berkembang pesat. Diduga omsetnya mencapai USD 10 juta.

Kita juga membaca satu per satu retail di Indonesia menutup outletnya. Terakhir Debenhams dan Lotus. Tapi nanti dulu, itu bukan cuma terjadi di sini. Di USA, tahun ini saja sudah 1430 toko milik Radio Shack yang ditutup, lalu 808 outlet milik toko sepatu Payless, 238 outlet Kmart, 160 toko Crocs (sepatu), 138 outlet JC Penny, 98 Sears, 68 Macy’s, 70 outlet CVS, 154 toko untuk Walmart, 128 outlet Michael Kors dan seterusnya.

Dari Jepang pagi ini saya mendengar Mizuho bank akan mengurangi 19.000 dari 50.000 karyawannya setelah keuntungannya banyak dimakan fintech.  Ini sejalan dengan bank-bank nasional yang mulai melakukan hal serupa, minimal tak lagi membuka cabang baru.

Jadi kalau kita melihat baru beberapa toko besar yang ditutup di sini, dan mulai sepinya belanja di Glodok dan toko grosir Tanah Abang, maka sesungguhnya itu belum seberapa. Ini baru tahap awal. Nanti, saya bisa ceritakan bahwa, brand pun berubah bagi millennials: Branded (luxuries) akan menjadi public brand.

 Bencana atau peluang

Shifting tentu berbeda dengan krisis atau resesi yang lebih banyak dipandang sebagai bencana yang amat memilukan. Shifting dapat diibaratkan Anda tengah bermain balon eo’. Masih ingatkah balon yang terdiri dari dua buah dan berhubungan. Kalau yang satu ditekan, maka anginnya akan pindah ke balon yang besar dan berbunyi eo’, eo’ …

Ya seperti itulah. Angin berpindah, lalu ada yang terkejut karena terjepit dan ruangnya hampa. Manusia-manusianya akan bertingkah polah mirip cerita Who Moved My Cheese. Manusianya bolak-balik kembali ke tempat yang sama dan berteriak-teriak marah: Kembalikan keju saya! Kembalikan! Duh, siapa yang mencurinya? Siapa yang memindahkannya?

Padahal, menurut Ken Blanchard & Johnson yang menulis perumpamaan itu, keju adalah symbol dari apa saja yang membawa kebahagiaan. Ia bisa berupa kue, pekerjaan, kekasih, kekayaan, perusahaan, atau bahkan keterampilan. Dan semuanya tak abadi, bisa pindah atau dipindahkan “ke tempat” lain.

Dan di dalam cerita itu disebutkan ada dua ekor tikus yang selalu bekerja dan mencari “keju” itu ke tempat lain. Anda yang mempunyai “Shio” tikus barangkali punya perilaku yang sama: Tak bisa diam di tempat. Nah, keduanyalah yang menemukannya. Ternyata di tempat lain itu ada keju-keju lain yang sama nikmatnya dan jauh lebih besar.

Mereka menuding resesi atau daya beli itu ibarat “manusia” tadi. Tidak bisa melihat keju yang telah berpindah ke tempat lain. Ia hanya mengais rejeki di tempat yang sama. Resesi atau lemahnya daya beli, kalau balon, maka itu diibaratkan satu balon yang mengempis atau kalau krisis, balonnya pecah.

Dan harap diketahui kita baru saja berada di depan pintu gerbang Disruptions. Saya harap Anda sudah membaca bukunya. Dalam proses disruption itu, teknologi tengah mematikan jarak dan membuat semua perantara (middlemen) kehilangan peran. Akibatnya margin 20-40% yang selama ini dinikmati para penyalur (grosir – retailer) diserahkan kepada digital marketplace (± 5%), seperti Tokopedia, Bukalapak, OLX, dan konsumen. Konsumen pun menikmati harga-harga yang jauh lebih terjangkau.

Ditambah lagi, kini generasi millennials telah menjadi pemain penting dalam konsumsi. Dan tahukah Anda, setidaknya satu dari beberapa anak Anda telah menjadi wirausaha baru. Mereka beriklan di dunia maya seperti di FB dan IG, dan mendapatkan pelanggan di sana, berjualan di sana, dan perbuatannya tidak terpantau regulator bahkan orang tua mereka sekalipun.

Di era ini, para pengusaha lama perlu mendisrupsi diri, membongkar struktur biaya, bukan bersekutu dengan regulator, mengundang kaum muda untuk membantu meremajakan diri, agar siap bertarung dengan cara-cara baru. Biarkan saja kaum tua meratapi hari ini dengan mengatakan daya beli, krisis, atau resesi.

Dunia ini sedang shifting. Orang tua-orang tua muda sedang memangku cyber babies, kaum remaja terlibat cyber romance. Mereka belajar di dunia cyber, dan menjadi pekerja mandiri. Dan masih banyak hal yang akan berpindah, bukan musnah. Ia menciptakan jutaan kesempatan baru yang begitu sulit ditangkap orang-orang lama, atau orang-orang malas yang sudah tinggal di bawah selimut rasa nyaman masa lalu.

Ayo ikuti shifting ini, terlibat dan ambil bagian di dalamnya.

Saya yakin 90 persen dari Anda hanya akan menjadi penonton dan akan berkeluh kesah bahwa hidup makin suram karena anda menolak untuk mengikuti perubahan .

Di era pandemi covid-19 ini ,  bagaimana hidup anda dalam 3 tahun ke depan ?  Apa yang anda inginkan dalam 3 tahun ke depan ?  Anda masih yakin impian hidup anda akan tercapai dalam 3 tahun ke depan ?

Anda bisa menghubungi :

Yan – Asuransi Allianz

Whatsapp : 0821 8732 8732

Email : bahagia@berbahagia.com

Toko Sepi ,Bisnis sepi, Dagang Lesu, Omzet Turun, Laba Turun, Margin Tipis, Hutang Menumpuk,Tagihan Macet, Modal Habis,Siap Siap Bangkrut

Di tahun 2020 ini bagaimana bisnis anda ?

Apakah anda optimis bahwa bisnis anda akan membaik di tahun 2021 ataukah anda pesimis dan memiliki feeling bisnis anda bahkan akan memburuk di tahun 2021 ?

Toko sepi, bisnis sepi,jualan sepi,dagang sepi,usaha sepi adalah kata kata yang banyak dicari di tahun 2020 di internet.

Dari 100 persen pebisnis , mungkin hanya 20 persen an yang berani mengatakan bisnisnya sangat bagus dan bertumbuh terus.

Sisanya yang hampir 80  persen pasti akan mengatakan bahwa bisnisnya empot empotan , bisa bertahan saja sudah bersyukur.

Jika ada yang masih asyik berekspansi membuka bisnis baru, membuka toko baru,membuka cabang baru,menambah armada baru,menambah karyawan baru,nenambah gudang baru , maka orang tersebut harus anda dekati dan anda angkat sebagai suhu karena pasti ilmu nya sakti mandraguna karena bisnisnya masih berkembang dan hokinya semakin bagus.

Anda yang berbisnis di bidang perdagangan dalam negeri dan retail dalam negeri pasti merasakan penurunan omzet dan penurunan keuntungan karena persaingan dengan era internet , perubahan pola belanja masyarakat dan juga adanya kesulitan memperoleh barang dagangan karena larangan impor terbatas alias lartas . Yang paling paling parah tentunya pandemi Covid 19.

Anda buka toko setiap pagi  dan tutup toko setiap sore atau malam , anda lakukan secara rutin setiap hari senin sampai sabtu bahkan sampai hari minggu alias 7 hari seminggu .  Masalahnya anda menunggu pembeli menghampiri anda , anda rajin buka toko tapi omzet tetap menurun dan keuntungan juga menurun.

Belum lagi bisnis anda diperparah oleh persaingan yang menyebabkan anda memperoleh margin keuntungan seupil bahkan margin keuntungan yang tipis sekali sehingga saking tipisnya margin keuntungan itu sakitnya rasanya seperti cabut bulu kaki. Disaat pandemi Covid 19, tipisnya margin keuntungan itu sakitnya sudah seperti mencabut bulu selangkangan.

Dagang sepi diperparah lagi oleh pembeli dan pelanggan anda yang menunda tempo pembayaran sehingga tagihan anda ke pembeli menggunung sedangkan supplier dan pemasok semakin galak menagih hutang atas pengambilan barang anda , bahkan diberlakukan aturan pembayaran tunai alias ada uang baru ada barang .  Akibatnya anda kalah memutar antara hutang dagang  melawan piutang dagang . Belum lagi kalau ada pelanggan yang ngemplang hutang dagang nya terhadap anda. Bonyok dan babak belur lah anda sebagai pebisnis.

Bisnis yang lesu dan dalam kondisi kalah mutar antara hutang dagang dengan piutang dagang , makin diperparah lagi oleh pemasok anda yang tidak menghormati aturan bisnis antara pemasok barang dengan anda sebagai distributor barang mereka . Pemasok barang anda langsung menjual ke langganan langganan anda sehingga anda kehilangan langganan langganan yang dengan susah payah anda peroleh selama puluhan tahun berdagang.

Anda tidak bisa meninggalkan bisnis anda begitu saja walaupun sulit karena anda sudah berkeluarga dan keluarga anda butuh dinafkahin , lagipula bisnis anda sudah anda rintis dari awal dan sudah berjalan puluhan tahun sehingga anda telah dikenal dan memiliki reputasi .

Anda mencoba membuka lapak di online seperti tokopedia dan shopee, mencoba juga muncul di instagram , namun ternyata perang dagang di online lebih parah daripada di toko fisik karena di online anda harus perang dengan ribuan pedagang yang menjual barang sejenis sehingga untuk menonjol jauh lebih sulit daripada  berdagang di toko fisik.

Serba salah jadinya , anda tutup bisnis anda sehingga tidak perlu berdarah darah rugi salah , anda jalankan terus tapi berdarah darah rugi juga salah. Bingung jadinya.

Ada pembeli , walaupun pembeli sedikit , anda tetap harus mengeluarkan biaya operasional seperti biaya pengoperasian truk , biaya gudang , biaya sewa toko , biaya karyawan , biaya bunga bank , biaya pajak dan berbagai biaya lainnya.

Anda bertemu dengan teman teman yang berbisnis di bidang yang sama dan semua juga mengeluhkan dagangan yang sepi sehingga anda semakin pesimis dan semangat semakin menurun.

Anda bertahan di bisnis anda yang lagi sepi dengan harapan suatu saat keadaan akan membaik. Masalahnya anda tidak tahu kapan keadaan akan membaik.  Anda melepaskan aset properti anda satu persatu untuk mempertahankan bisnis anda . Masalahnya kalau di saat pandemi Covid 19 ini melepaskan aset properti pasti jual rugi karena harga properti juga ikut menukik.

Saat hari raya tiba seperti Imlek , angpao yang anda berikan kepada anak dan sanak famili juga menurun seiring dengan bisnis anda yang sepi.

Anda bersyukur di saat kondisi dagang lesu , anda dan keluarga masih diberikan kesehatan sehingga tidak terjadi modal usaha terpakai untuk biaya berobat.

Jika anda mengalami kondisi toko sepi , dagang sepi , bisnis sepi , modal untuk usaha pakai kredit bank , rumah tinggal anda dijaminkan untuk mendapatkan kredit bank tersebut, hutang ke pemasok juga menumpuk , tagihan ke pelanggan yang belum membayar juga menumpuk maka itu disebut cilaka.

Jika anda mengalami kondisi toko sepi , dagang sepi , bisnis sepi , modal untuk usaha pakai kredit bank , rumah tinggal anda dijaminkan untuk mendapatkan kredit bank tersebut, hutang ke pemasok juga menumpuk , tagihan ke pelanggan yang belum membayar juga menumpuk , anda atau anggota keluarga anda mengalami kondisi sakit berat bahkan sakit kritis yang menbutuhkan banyak biaya untuk pengobatan dan perawatannya dan anda karena kondisi ekonomi sudah menyetop semua asuransi jiwa dan kesehatan yang anda bayar maka itu disebut cilaka dua belas.

Yang saya tahu kalau anda mengalami kondisi seperti diatas , biasanya sih anda pasti memilih menjual rumah walaupun harga jual rumah anda sedang jatuh banget karena properti lesu dan memilih melunasi hutang bank , menutup bisnis anda yang sepi dan sulit dipertahankan lagi tersebut, menghadapi tuntutan perdata dari pemasok anda karena anda tidak sanggup melunasi hutang ke pemasok dan hanya sanggup mencicil sesuai kemampuan.  Anda sementara beralih menjadi supir taksi online memanfaatkan mobil pribadi anda dan melakukan akrobat gali lobang tutup lobang dengan memanfaatkan KTA Kredit Tanpa Agunan dan melakukan Gestun Gesek Tunai Kartu Kredit yang anda miliki untuk membiayai hidup sehari hari anda sambil tidak lelah lelahnya menagih piutang ke pelanggan anda yang belum membayar .  Ini bukan teori , ini adalah fakta yang saya lihat dari teman teman yang sudah buntu di bisnis nya.

Jika anda dan keluarga menggantungkan hidup seratus persen dari hasil keuntungan toko dan usaha dagang yang anda jalankan saja tanpa memiliki sumber penghasilan lain , maka cilakalah.

Jika bisnis anda semakin sepi dan sudah mulai memakan modal anda , pasti akan menjadi beban pikiran anda atau pasangan anda dan biasanya jika beban pikiran berlarut larut karena tidak ada solusi untuk mengatasi sepinya bisnis maka akan menjadi stress berkelanjutan.

Berdasarkan pengalaman teman teman saya yang berbisnis , hari ini ditawarkan pegang stok barang atau pegang properti atau pegang cash , semua serentak menjawab cash karena cash is the king.

Masalahnya kalau portfolio bisnis anda asetnya ada di stok barang yang kalau diobral pun belum tentu laku dan aset anda ada di tagihan ke pelanggan yang belum tentu bisa tertagih 100 persen , maka pasti modal anda akan mulai tergerus .

Pertanyaan sederhana adalah apa yang anda lakukan kalau toko terus menerus sepi dan omzet juga terus menerus menurun ?

Kalau anda fokus nongkrongin toko anda yang makin hari makin sepi tanpa berbuat apapun alias pasrah sih kebangetan banget .

Hari gini kalau anda berdagang barang barang yang merupakan merek orang lain dan bukan merek anda sendiri dan kebetulan adalah barang konsumsi atau barang elektronik maka cilakalah anda karena hari ini kalau ada pembeli yang mampir ke toko anda mau membeli barang , maka pembeli yang membuka harga dahulu , bukan anda sebagai penjual yang membuka harga dahulu dan kemudian pembeli menawar.

Ini adalah cerita cerita beberapa teman dalam bisnisnya saat ini :

Cerita pertama :

Teman saya berdagang aksesoris komputer di pusat komputer di Jakarta , ada pembeli mampir mau membeli printer terkenal merek Exxxn , setelah teman saya menjawab dia punya barangnya , si pembeli langsung menyebutkan kalau printer tipe tersebut di Tokopedia dan Shopee  harganya sekian , bisa minta harga lebih murah karena dia mau membeli 10 unit dan minta ongkos kirim dan ongkos setting printer gratis . Teman saya hanya bisa urut dada karena memang jaman sudah berubah , informasi harga barang yang dijual bisa diperoleh dengan mudah di internet , kalau di Indonesia di Tokopedia atau Shopee , kalau barang impor bisa di cek harganya di Alibaba . Cari duit lewat buka toko sekarang hanya untuk cukup makan 3 kali sehari saja , mimpi untuk kaya lewat buka toko sudah bukan jamannya lagi

Harusnya anda mencoba sesuatu yang lain tanpa harus meninggalkan bisnis anda yang sepi tersebut karena badai pasti berlalu.  Di saat pandemi Covid 19 ini badai pasti akan berlangsung lama. Di saat badai , ya anda melakukan hal lain yang menghasilkan uang tapi tidak perlu meninggalkan bisnis anda karena saat badai berlalu tentunya hal lain yang anda lakukan tersebut bisa  anda tinggalkan atau sebagai sampingan saja dan anda fokus kembali ke bisnis anda .Bisa jadi malah hal lain yang anda lakukan disaat badai akhirnya menjadi sumber penghasilan utama dan anda dengan lega dan legowo meninggalkan bisnis lama anda.  Minimal  penghasilan dari sumber lain disaat badai tersebut membuat anda masih bisa mempertahankan bisnis yang sudah anda geluti sejak lama tersebut sehingga saat badai berlalu anda dapat kembali fokus seratus persen ke bisnis lama anda.

Saya pribadi sebagai pemilik website berbahagia.com juga mengalami penurunan omzet dan laba di bisnis utama saya . Tapi syukur saya melihat peluang lain di saat bisnis sepi yang tidak membuat saya harus meninggalkan bisnis utama.

Kata orang bijak jangan menaruh semua telur di satu keranjang .  Di dalam bisnis artinya jangan sampai satu keluarga bertumpu pada satu bisnis yang sama .

Di era pandemi covid-19 ini ,  bagaimana hidup anda dalam 3 tahun ke depan ?  Apa yang anda inginkan dalam 3 tahun ke depan ?  Anda masih yakin impian hidup anda akan tercapai dalam 3 tahun ke depan ?

Seperti apa kita dilahirkan adalah takdir

Seperti apa kita bertumbuh adalah proses

Seperti apa kita di masa tua adalah keputusan

Dimulai dari keputusan hari ini , apa saja yang akan kamu lakukan ?

Anda bisa hubungi :

Yan – Asuransi Allianz

Whatsapp : 0821 8732 8732

Email : bahagia@berbahagia.com

Artikel lain yang berhubungan dengan bisnis sepi :

https://berbahagia.com/2018/08/21/bangkrut-karena-jadi-master-dealer-atau-distributor-utama/

https://berbahagia.com/2018/08/15/buka-toko-hari-gini-buat-cari-untung-atau-buat-cari-kesibukan-doang-ayo-jawab/

https://berbahagia.com/2018/08/24/investasi-properti-makin-menurun-nilainya-punya-properti-bikin-pusing-sekarang/