Jadi pengusaha hari ini mumet habis, pusing tujuh keliling , sakit kepala habi habisan. Minum obat sakit kepala satu strip juga tidak akan mempan karena sumber sakit kepala bukan di badan tapi di bisnis yang lagi kelimpungan.

Konsumsi turun habis selama pandemi Covid 19. Banyak karyawan yang gajinya dipotong sehingga mereka mengurangi konsumsinya. Belanja hal hal yang tidak perlu dikurangi dan hanya belanja hal hal pokok dan penting saja.

Hal hal pokok paling banter adalah sembako, biaya internet, biaya pulsa, biaya listrik , air , biaya bahan makanan karena rata rata makan di rumah sehingga masak sendiri , biaya gas. Makan di luar dikurangi bahkan ditiadakan sehingga menghantam bisnis restoran dan rumah makan. Bepergian dikurangi bahkan ditiadakan sehingga menghantam bisnis tour travel, pesawat, angkutan antar kota . Belanja pakaian,kosmetik,sepatu dikurangi bahkan ditiadakan karena lebih sering di rumah. Kalaupun harus bekerja via zoom meeting cukup baju atasan saja yang kelihatan rapi, bawahan mau pakai celana pendek pun tidak problem , bertelanjang kakipun tidak problem. Di depan zoom meeting pakai kosmetik merek murahpun yang buatan lokal tidak problem karena toh tidak bekerja diluar sehingga lipstik yang dipakai tidak perlu yang tahan lama tidak luntur. Baju atasan juga tidak perlu baru , bahkan kalau sisi belakang baju atasan sudah agak luntur pun tidak problem , toh zoom meeting kan yang penting bagian depan baju saja.

Ngopi di luar seperti di kafe dikurangi dan paling banter minum kopi sachet atau kopi instant saja di rumah. Petani kopi jadi menjerit karena hasil panen banyak tidak terjual.

Ternyata di saat manusia hanya membeli barang yang dibutuhkan dan bukan barang yang diinginkan maka akan menjadi bencana bagi pengusaha. Aturan teori dari perencana keuangan selalu mengatakan belilah barang yang dibutuhkan , bukan barang yang diinginkan. Ternyata virus Covid 19 bisa menwujudkan aturan membeli barang yang dibutuhkan dan bukan membeli barang yang diinginkan. Hasilnya banyak pengusaha yang bangkrut dan gulung tikar, memperkecil skala usaha, megap megap mempertahankan bisnis tetap berjalan.

Di saat pandemi Covid 19 ini, pengusaha yang berekspansi dengan bahan bakar hutang bank adalah yang paling pertama terhantam keuangannya karena terjerat hutang dan walaupun sudah diberikan relaksasi ternyata tidak sanggup membayar bunga diskon yang diberikan , boro boro bisa bayar pokok.

Rata rata pengusaha tidak memiliki cadangan dana likuid alias uang tunai untuk bertahan disaat paceklik . Permainan pengusaha untuk berkembang dan maju rata rata sederhana yakni memainkan tempo perputaran piutang melawan tempo perputaran hutang . Artinya mengusahakan umur tagihan ke pelanggan lebih pendek daripada umur hutang ke supplier. Dan menggunakan hutang bank sebagai booster untuk melejitkan bisnis. Semua aset tetap yang dimiliki yang rata rata berbentuk properti rumah dan tanah disekolahkan ke bank alias dijadikan jaminan untuk memperoleh dana kredit bank.

Di saat pandemi Covid 19 ini , pengusaha mendapatkan bencana . Biasanya mendapatkan berkah kalau memiliki kredit bank dan kalau bisa kredit ank diperbesar terus setiap tahun. Hari ini pengusaha memperoleh bencana karena omzet turun drastis , tagihan ke pembeli banyak yang macet yang otomatis mempengaruhi pembayaran hutang ke supplier. Untuk menjaga agar arus uang tidak negatif habis , akhirnya mengambil keputusan hanya menjual dengan syarat tunai karena supplier juga mengharuskan bayar dulu baru dapat barang. Otomatis sudah omzet turun , makin turun lagi karena syarat tunai tersebut. Omzet turun , tagihan macet, hutang ke supplier jatuh tempo mempengaruhi arus kas dan otomatis mempengaruhi cicilan ke bank . Tidak ada arus kas positif pasti membuat pembayaran cicilan hutang ke bank tersendat. Boro boro bayar cicilan ke bank , bayar bunga ke bank saja sudah megap megap.

Semua biaya akhirnya dihemat, termasuk biaya gaji karyawan. Disinilah bencana kedua muncul , gaji karyawan dipotong disaat pandemi meruntuhkan semangat karyawan dan moral kerja karyawan. Semangat dan moral kerja adalah darah dalam persaingan bisnis. Karyawan yang lesu dan tidak bersemangat mempengaruhi kualitas layanan dan kualitas penjualan. Endingnya adalah omzet turun , bisnis makin terpuruk karena kualitas layanan dan kualitas produk hancur yang disebabkan kualitas karyawan yang menurun karena gaji mereka dipotong.

Lingkaran setan ini adalah buah simalakama yang harus diterima pengusaha. Pil pahit ini diperparah lagi oleh kondisi si pengusaha yang berusaha mendapatkan cash flow dengan mencoba melunasi hutang bank dengan menjual aset properti yang dijaminkan. Problem terbesar menjual properti di saat pandemi covid adalah pembeli menawar harga serendah mungkin karena beranggapan semua orang yang menjual properti pasti lagi butuh uang. Alhasil properti tidak terjual karena pengusaha tidak rela mengobral propertinya dibawah harga yang diinginkan si pengusaha.

Lingkaran setan ini akhirnya selesai saat si pengusaha di pailitkan oleh suppliernya atau bangkrut sendiri karena kehabisan dana.

Pailit karena si pengusaha ngotot tidak rela menjual aset properti yang dimiliki dengan harga murah seperti yang diinginkan pembeli yang semua menawar dengan harga murah sehingga dana tunai menipis. Bangkrut juga karena si pengusaha ngotot tidak rela menjual aset properti yang dimiliki dengan harga murah sehingga kehabisan dana.

Kalau ada pengusaha yang merasa kalau tulisan ini adalah khayalan semata dan tidak sesuai kenyataan , boleh protes ke saya . Berarti saya yang berkhayal dan anda sebagai pengusaha yang benar atau jangan jangan anda yang berkhayal bahwa bisnis lagi bagus banget, untung lagi besar besar , arus kas alias cash flow lagi positif banget, dana tunai di tangan lagi banyak banget . Stress berkepanjangan bagi pengusaha di saat pandemi Covid 19 bisa menimbulkan fatamorgana dan ilusi bahwa semua baik baik saja dan kemudian tiba tiba bisnis tutup dan bangkrut karena ilusi yang dihasilkan stress tadi.

Seperti apa kita dilahirkan adalah takdir

Seperti apa kita bertumbuh adalah proses

Seperti apa kita di masa tua adalah keputusan

Dimulai dari keputusan hari ini , apa saja yang akan kamu lakukan ?

Anda bisa hubungi :

Whatsapp  : 0897 3346 698

Email : bahagia@berbahagia.com