Badai Pandemi Covid 19 Pasti Berlalu , Tapi Kalau Badainya Kelamaan , Masih Bisa Bertahan Hidup Tidak ?

Pandemi Covid 19 ini ibarat badai besar yang melanda kehidupan kita.

Dalam situasi badai, biasanya kita menyelamatkan diri. Ngumpet dan bersembunyi di tempat aman sambil menunggu badai berlalu.

Selama ngumpet dan bersembunyi di tempat aman menunggu badai berlalu, kita hidup dari bekal simpanan kita .

Itu hal yang lazim dilakukan jika diterpa badai besar.

Di dunia nyata, pandemi Covid 19 telah menyebabkan badai besar dalam kehidupan.

Yang jadi karyawan banyak yang dipotong gajinya, banyak karyawan yang dirumahkan , banyak karyawan yang ditunda gajinya dan banyak karyawan yang di PHK.

Semua karyawan yang menjadi korban badai pandemi Covid 19 harus berhemat habis habisan, hidup dari tabungan seirit mungkin.

Yang berbisnis banyak yang harus memperkecil ukuran bisnisnya, menutup banyak cabang dan outlet , bahkan menutup outlet satu satunya. Di saat badai pandemi Covid 19 ini , banyak pebisnis yang tidak berani berpikir soal target pertumbuhan, rata rata pebisnis bisa bertahan hidup saja sudah bersyukur .

Di saat badai pandemi Covid 19 ini semua orang berjaga jaga untuk kemungkinan terburuk , sehingga semua orang berhemat dalam hidupnya. Banyak orang hanya belanja barang yang dibutuhkan saja dan hanya belanja hal yang dibutuhkan saja Banyak orang tidak belanja barang dan hal yang diinginkan. Jadi paling banter orang tetap keluarkan uang untuk makanan pokok , listrik,air, pulsa, internet, biaya sekolah.

Di saat badai pandemi Covid 19 ini jarang sekali orang mengeluarkan uang untuk hal hal yang bersifat gaya hidup seperti membeli baju baru, membeli ponsel baru,berwisata , makan makanan restoran,membeli barang elektronik baru,membeli perabot baru,membeli sepatu baru,membeli jam tangan baru,ke salon untuk gaya rambut terbaru,membeli jajanan kekinian seperti kue artis, ngopi produk kopi kafe,membeli mobil baru, membeli motor baru, nonton bioskop, ngegym, bersantai di spa, refleksi kaki.

Hal hal yang berhubungan dengan gaya hidup dilupakan karena semua berhemat dalam menghadapi badai pandemi Covid 19.

Akibat berhemat, membeli yang hanya dibutuhkan dan tidak membeli apa yang diinginkan membuat banyak bisnis sempoyongan bahkan bangkrut.

Tidak berwisata menyebabkan perusahaan bus wisata, bus antar kota, rental mobil, angkutan antar kota, pesawat terbang,biro perjalanan,restoran,pengrajin oleh oleh sempoyongan bahkan bangkrut.

Tidak membeli baju baru, sepatu baru,ponsel baru menyebabkan pabrik garmen,pabrik sepatu, outlet retail sepatu, bisnis custom sepatu, baju, toko toko indie, toko ponsel sempoyongan bahkan bangkrut.

Tidak membeli mobil baru, motor baru, karena pandemi Covid 19 lebih banyak di rumah, menyebabkan bisnis showroom mobil baru, showroom motor baru, showroom mobil bekas, showroom motor bekas,bengkel, pabrik sparepart,toko sparepart pada sempoyongan bahkan bangkrut.

Di saat badai pandemi Covid 19 semua pebisnis ibarat dari rumah besar harus pindah ke rumah kecil , banyak yang sudah keburu sewa di mal untuk masa 3 tahun ke depan terpaksa membuang uang sewa sia sia selama pandemi Covid 19, banyak pebisnis transportasi yang sudah leasing armada kendaraan terpaksa armadanya sebagian besar nganggur sedangkan meteran cicilan , bunga dan penyusutan aset tetap berjalan, semua beroperasi dibawah kapasitas alias under capacity. Biaya tetap alias fixed cost tidak bisa berubah dan tetap harus dikeluarkan . Artinya pindah ke rumah kecil tapi biaya operasi tetap sama dengan saat berada di rumah besar. Itu artinya besar pasak daripada tiang. Sempoyongan sudah pasti. Bangkrut di depan mata.

Karyawan yang dipotong gajinya, dirumahkan , diphk juga harus berhemat dan itu juga berarti ibarat pindah dari rumah besar ke rumah kecil. Mengerem pengeluaran untuk hal hal yang tidak penting dan hanya memprioritaskan hal hal penting saja.

Di saat semua berhemat karena badai pandemi Covid 19, justru semakin banyaklah pebisnis dan karyawan yang sempoyongan. Semakin banyak yang berhemat , semakin banyak yang sempoyongan hidupnya karena jumlah uang yang beredar semakin berkurang.

Badai pasti berlalu.

Tapi kalau badai nya kelamaan dan tidak berlalu lalu, apakah anda sebagai karyawan hanya pasrah dan berhemat terus sedangkan ada banyak biaya hidup yang tidak bisa dihemat sama sekali ?

Tapi kalau badai nya kelamaan dan tidak berlalu lalu, apakah anda sebagai pebisnis hanya fokus menjaga supaya bisnis tetap bertahan dan membeli waktu supaya jangan cepat cepat bangkrut walaupun akhirnya bangkrut ?

Kalau badai terlalu lama reda juga, hendaknya anda sebagai manusia normal mencari alternatif untuk kabur dari terpaan badai. Tidak pasrah hanya mengurung diri di tempat aman menunggu badai berlalu. Karena kalau badai terlalu lama dan anda hanya menunggu dengan mengurung diri di tempat aman , bisa jadi bekal persediaan anda sudah keburu habis sebelum badai berlalu.

Seperti apa kita dilahirkan adalah takdir

Seperti apa kita bertumbuh adalah proses

Seperti apa kita di masa tua adalah keputusan

Dimulai dari keputusan hari ini , apa saja yang akan kamu lakukan ?

Anda bisa hubungi :

Yan – Asuransi Allianz

Whatsapp : 0821 8732 8732

Email : bahagia@berbahagia.com

Gaji Dipotong , Pasrah Saja Deh

Di saat pandemi Covid 19 ini , banyak sekali karyawan yang gajinya dipotong.

Ada karyawan yang kena potong gaji 20 persen, ada karyawan yang kena potong gaji 50 persen, ada karyawan yang kena potong gaji 90 persen, bahkan ada karyawan yang dirumahkan alias unpaid leave .

Banyak karyawan yang sudah berbulan bulan mengalami pemotongan gaji. Bahkan banyak karyawan yang sudah berbulan bulan tidak digaji.

Perusahaan menyatakan mengalami efek dari pandemi Covid 19 yang mengakibatkan omzet menurun dan laba menurun bahkan rugi.

Biaya harus dikurangi kalau perusahaan mengalami penurunan omzet dan salah satu komponen biaya adalah biaya gaji karyawan. Tujuannya agar perusahaan tidak merugi ataupun kalau rugi maka tidak bengkak ruginya.

Masalahnya adalah bos pemilik perusahaan barusan beli mobil baru di awal tahun, barusan beli rumah baru di awal tahun, barusan punya bini baru di awal tahun . Tapi pemotongan gaji itu adalah trend yang harus diikuti , kalau tidak diikuti bisa malu dengan perusahaan yang lain yang juga melakukan pemotongan gaji.

Apa yang dilakukan seorang karyawan kalau gajinya dipotong ?

PASRAH adalah hal yang dilakukan seorang karyawan.

Karyawan yang mengalami pemotongan gaji berusaha berhemat dalam menjalani hidup sehari hari. Beras tidak boleh sembarangan disawer sawerin buat kasih ayam makan. Harus dihemat.

Bagi karyawan yang sudah berkeluarga, begitu gaji dipotong 50 persen , maka les anak anak distop, biaya listrik dihemat, biaya makan dihemat, biaya untuk hal hal yang bersifat rekreasi dan hiburan dihemat. Kalau perlu uang sekolah dinegosiasi ulang.

Bahkan ada karyawan yang untuk menghemat biaya , berpindah dari rumah besar ke rumah kecil bahkan ke apartemen ukuran 4 L ( Lu Lagi Lu Lagi ) demi menghemat biaya sewa.

Mobil pun kalau perlu diganti ke ukuran mobil yang lebih kecil dan lebih murah , bahkan diganti jadi motor biar hemat.

Karyawan yang dipotong gajinya bahkan masih berpikir untung . Untung tidak dipecat, untung tidak diphk , untung tidak dirumahkan, untung masih digaji walaupun dipotong.

Beban kerja tidak berkurang walaupun gaji dipotong. Bahkan beban kerja mungkin bertambah karena jumlah karyawan berkurang padahal beban pekerjaan tetap sama tapi dibagi ke jumlah karyawan yang semakin sedikit. Bahkan karena banyak yang menganut kebiasaan WFH ( work from home ) selama pandemi Covid 19, zoom meeting kantor tetap dilakukan di luar jam kerja , bahkan di akhir pekan, sehingga waktu kerja bertambah habis habisan tanpa mengenal waktu pribadi lagi karena rumah mendadak berubah menjadi tempat bekerja. Bayangkan sudah gaji dipotong, beban kerja bertambah, waktu kerja menjadi setiap saat walaupn di luar jam kantor.

Rata rata karyawan menghadapi kondisi penurunan penghasilan karena gaji dipotong ini dengan bersikap pasrah. Tidak ada upaya apapun untuk menambah penghasilan. Paling banter mencoba jualan makanan makanan kecil atau kuliner rumahan yang menghasilkan uang receh karena ditawarkan ke sesama teman kantor yang juga mengalami pemotongan gaji sehingga daya beli mereka juga menurun.

Tidak ada terobosan spektakuler yang dilakukan oleh karyawan yang dipotong gajinya untuk mendobrak kebuntuan penurunan penghasilan. Pasrah adalah sikap terbaik yang diambil oleh karyawan yang kena pemotongan gaji.

Harapan terbaik dari karyawan adalah gajinya dipulihkan ke angka sebelum dipotong. Boro boro berani mimpi naik gaji. Gaji dipulihkan saja sudah bersyukur banget.

Jadi karakter utama karyawan adalah pasrah.

Seperti apa kita dilahirkan adalah takdir

Seperti apa kita bertumbuh adalah proses

Seperti apa kita di masa tua adalah keputusan

Dimulai dari keputusan hari ini , apa saja yang akan kamu lakukan ?

Anda bisa hubungi :

Yan – Asuransi Allianz

Whatsapp : 0821 8732 8732

Email : bahagia@berbahagia.com