Anda kemarin tinggal di rumah dua lantai dengan 3 kamar tidur bersama pasangan dan anak anak anda di sebuah komplek perumahan yang mentereng .

Tentunya tinggal di rumah 2 lantai dengan 3 kamar bersama pasangan dan anak anak sangat menyenangkan , rumah lega dan memiliki halaman yang luas , mobil bisa diparkir langsung di depan rumah .  Setiap penghuni rumah bisa memiliki kamar masing masing , anda dan pasangan anda tidur di kamar tersendiri , begitupun dengan anak anak anda bisa tidur di kamar masing masing . Jika ada tamu datang pun anda masih bisa menyiapkan kamar untuk tidur tamu .

Anda bisa membeli perabotan yang mentereng , sofa yang besar , meja makan yang besar karena anda bisa membuat ruang makan sendiri , dapur terpisah bahkan ada dapur kotor dan dapur bersih , ruang tamu diisi meja tamu dan sofa yang mewah serta lemari pajangan yang memajang koleksi barang barang hobi anda atau koleksi minuman keras anda atau koleksi pernik pernik hasil wisata anda keliling wilayah Indonesia dan Luar Negeri .  Di  dinding ruangan rumah anda terpajang beberapa foto kanvas seperti foto anda dengan pasangan ,foto keluarga . Di tiap kamar tidur terpasang televisi LED , koneksi wifi mencakup seluruh rumah , di ruang tamu terpajang televisi LED ukuran minimal 42 inchi .

Pokoknya tinggal di rumah besar tersebut anda bebas mendekor dan mengisi setiap ruangan rumah  sesuai selera anda dan pasangan sebagai pemilik rumah.

Namun apa jadinya jika karena sesuatu hal anda dipaksa harus merelakan kehilangan rumah besar tersebut dan terpaksa pindah ke rumah berukuran jauh lebih kecil bahkan ke apartemen berukuran mikro ?

Sesuatu hal yang membuat anda harus pindah dari rumah besar ke rumah kecil tentunya yang paling normal adalah  anda di PHK sehingga gaji anda menurun jauh untuk membayaran cicilan rumah besar tersebut.

Sesuatu hal yang membuat anda harus pindah dari rumah besar ke rumah kecil bagi pebisnis adalah bangkrut dan harus merelakan rumah besar yang ditinggal dijual untuk membayar kerugian bisnis dan hutang hutang bisnis .

Anda sudah berkeluarga dan memiliki anak anak , anda tidak bisa cengeng lagi , Life Must Go On !

Anda terpaksa pindah ke rumah kecil , bahkan ke apartemen ukuran kecil .

Perabot anda , foto foto kanvas di dinding rumah anda, lukisan lukisan di dinding rumah anda, pajangan di lemari pajangan , oven dan kompor keren di dapur anda , sofa , meja tamu, meja makan dan kursi makan , tempat tidur anda yang besar , tempat tidur anak anak anda , semua tidak muat dipindahkan ke rumah kecil atau apartemen kecil yang harus anda tempati setelah kehilangan rumah besar tersebut.

Televisi anda yang berjumlah 4 juga berasa berlebihan jika dipasang di rumah kecil atau apertemen kecil anda.

Hari ini anda harus menghadapi kenyataan bahwa anda harus tinggal di Rumah Kecil .

Cerita ini bukan karangan . Cerita ini adalah kenyataan yang banyak saya temui di tahun 2017 .

Saya akan mengambil satu contoh yang dialami teman saya di tahun 2017.

Teman saya  adalah “master dealer” dari sebuah merek produk lifestyle , di saat jayanya teman saya bisa memberikan tempo hutang kepada toko sampai Rp. 500 juta rupiah per toko . Teman saya sudah menikah dan memiliki isteri dan 2 anak cowok yang berusia 6 tahun dan 9 tahun .  Usia teman saya sudah masuk umur 42 tahun dan isterinya juga sudah berusia 40 tahun . Mereka menjalankan bisnis berdua saling bahu membahu .

Teman saya tinggal di sebuah rumah dengan 3 kamar berlantai 2 di wilayah serpong , tangerang dan memiliki 2 mobil yakni Mitsubishi Pajero dan Kijang Innova .

Mereka hidup bahagia sebagai kelas menengah sampai tahun 2016.

Sebagai master dealer , mereka pasti diharuskan memberikan target proyeksi penjualan mereka untuk tahun berikutnya , di tahun 2015 mereka memberikan proyeksi penjualan yang optimis untuk tahun 2016 .  Proyeksi penjualan dari mereka itulah yang dijadikan dasar oleh principal untuk memberikan pasokan barang ke mereka.

Di tahun 2016 mereka dipasok barang sesuai proyeksi penjualan yang mereka berikan ke principal , namun ada hal yang tidak diperhitungakan mereka. Persaingan di tahun 2016, era toko online yang mulai popouler di tahun 2016 , kondisi ekonomi di tahun 2016 dan pasar yang lesu di 2016 tidak mereka duga . Alhasil barang yang dipasok principal banyak yang tidak terjual , sedangkan pihak principal tidak perdulu tetap memasok barang dan semua barang yang dipasok principal dianggap sebagai hutang dagang yang harus dibayar oleh teman saya.

Untuk mengurangi kerugian yang lebih besar , terpaksa teman saya cut loss dan menjual barang dagangannya dengan harga rugi , setiap barang yang dijual harganya lebih rendah dari harga beli.

Sialnya merek yang teman saya agenin juga sedang turun pamornya sehingga sesama master dealer saling banting harga dan walaupun sudah banting harga dan jual rugi tetap tidak laku .

Problem utama teman saya adalah barang yang dijual adalah barang teknologi sehingga kalau barang dagangan yang dimiliki disimpan , maka barang dagangan tersebut akan menjadi kuno dan menjadi rongsokan karena tidak ada nilai jualnya lagi.

Dengan sekuat tenaga , kerja mati matian , tidak perduli pagi siang malam , teman saya dan isterinya menawarkan barang dagangan mereka ke siapapun dengan harga diskon super gila.

Ujungnnya teman saya tidak kuat juga menahan biaya operasi bisnisnya yang tidak tertutup , tagihan ke pelanggan yang macet dan hutang ke principal yang menggunung .  Ahirnya teman saya di tahun 2017 memutuskan menjual rumah tinggal mereka yang besar dengan 3 kamar untuk menutup biaya phk semua karyawan , biaya sewa toko yang masih harus dibayar dan membayar hutang ke prinsipal.

Sayangnya teman saya mengambil keputusan terlalu lama untuk menjual rumahnya sehingga harga rumahnya yang besar  dijual di tahun 2017  dengan harga lebih rendah 30 persen dibandingkan jika teman saya menjual rumahnya di tahun 2016.

Walapun rumah sudah dijual , hutang ke prinsipal tetap masih tersisa milyaran rupiah .

Teman saya sampai hari ini harus tetap rutin mencicil hutanganya ke prinsipal sesuai kemampuan teman saya , kadang 1 juta rupiah saja tiap bulan , kadang bisa 2 juta rupiah setiap bulan . Entah kapan hutang teman saya ke prinsipal nya bisa lunas , mungkin di atas 50 tahun kalau umur teman saya masih panjang.

Syukur teman saya , isterinya dan anak anaknya sehat sehingga tidak ada beban mendadak diluar biaya kebangkrutan bisnis.

Teman saya menjual ke dua buah mobil nya , pindah ke apartemen 2 kamar berukuran net 30 meter persegi dan membeli mobil murah seharga 100 jutaan rupiah .

Bayangkan betapa sedihnya teman saya setiap malam melihat anak anaknya tidur di kamar yang berukuran kecil tapi apa daya , Life Must Go On .

Sambil menjadi broker apa saja , juga mencoba peruntungan membuka akun di marketplace seperti tokopedia , teman saya juga nyambi menjadi supir taksi online dengan menggunakan mobil murah yang dimilikinya.

Dari jam 5 pagi bangun teman saya dan isterinya sudah sibuk beraktifitas sampai jam 11 malam . Apapun yang bisa dikerjakan untuk menghasilkan uang mereka kerjakan asalkan asap dapur ngebul dan anak tetap sekolah.

Bukankan itu problem yang dihadapai oleh banyak orang di tahun 2020 ini ?

Sudah berbahagiakah anda saat ini jika anda mengalami kejadian harus pindah dari rumah besar ke rumah kecil ?

Jika anda belum berbahagia , tanpa meninggalkan bisnis  anda dan pekerjaan yang anda tekuni  saat ini  , anda dapat memiliki penghasilan tambahan yang seiring waktu anda membesar dan di satu waktu penghasilan tambahan ini akan menyamai penghasilan yang anda peroleh dari bisnis dan pekerjaan anda dan seiring waktu akan jauh melebihi penghasilan dari pekerjaan dan karir anda. Hebatnya lagi anda tidak perlu meninggalkan pekerjaan anda sama sekali , tidak ada waktu kerja anda yang terganggu sama sekali.

Di era pandemi covid-19 ini ,  bagaimana hidup anda dalam 3 tahun ke depan ?  Apa yang anda inginkan dalam 3 tahun ke depan ?  Anda masih yakin impian hidup anda akan tercapai dalam 3 tahun ke depan ?

Jika anda tertarik :

Silahkan Email ke :

bahagia@berbahagia.com

atau

Whatsapp ke : 0897 3346 698

atau baca  :