Sebuah toko CD dan kaset musik terkenal era 90an-2000an, Disc Tarra menutup toko di seluruh Indonesia pada akhir 2015. Kabar ini mengejutkan penikmat musik dan kalangan seniman karena tak ada lagi toko yang menjual album fisik selengkap Disc Tarra.

Wirawan Hartawan yang saat itu pimpinan tertinggi Tarra Group (Grup yang menaungi Disc Tarra) memutuskan untuk menutup seluruh gerainya dan melakukan PHK 1.800 pegawai. Kini ia jadi petani sayur. Wirawan sukses mendirikan perkebunan modern bernama Hydrofarm

Ia mulai menekuni dunia pertanian pada 2013 lalu. Satu tahun sebelumnya, Wirawan menderita stroke karena otak kirinya mengalami penyumbatan saluran darah.

Kemudian kolesterol, darah tinggi sampai kencing manis juga ada dalam tubuhnya. “Waktu itu kata dokter tidak ada obatnya. Ini penyakit orang kaya, biasa makan enak dan tidur berantakan pola hidupnya jelek. Waktu masih di dunia musik kan kerja malam ke pagi dan tidak karuan,” kenang dia dalam program Ask d’Boss detikcom.

Walaupun sudah divonis tak bisa disembuhkan, dia masih penasaran dan mencari orang yang bisa membantunya. Akhirnya Wirawan bertemu dengan mantan Menteri Kesehatan dokter Terawan Agus Putranto yang membantu dia untuk terapi dan membuat saluran baru di tubuhnya. Ia kemudian dan kembali normal.

Namun sayang dalam waktu tiga bulan, saluran di otak kirinya kembali tersumbat. “Saya tanya dok bagaimana ini? dia jawab ‘Saya hanya bisa tolongin kamu sekali, karena kalau kedua kalinya bisa bereaksi kalau kebanyakan, kamu percayakan saja sama yang di atas dan kamu ubah pola hidup kamu, makan sayur selama ini sukanya makan daging kan’,” ujarnya.

Dari kejadian itulah, pria kelahiran Januari 1960 ini flashback ke masa lalunya. Dirinya ingat dari kecil selalu mengonsumsi daging sebagai makanan. Apalagi saat tia sekolah di luar negeri, asramanya selalu menjadikan daging sebagai makanan utama. Dengan porsi dalam jumlah besar.

Akhirnya Wirawan mulai makan sayur-sayuran dan makanan alami. Pelan-pelan kondisinya mulai membaik, walaupun dia juga masih harus mengonsumsi obat-obatan untuk menekan penyakit yang masih ada di dalam tubuhnya.

“Waktu itu saya bisa makan 20 macam obat untuk tekan saya punya penyakit. Dari situ, saya bertekad saya harus belajar menanam sayur dan saya konsumsi, sayur ini yang bisa menyehatkan,” jelas dia.

Dia kemudian mendatangi Universitas-universitas di beberapa kota besar di Indonesia untuk mempelajari bertanam sayuran dengan metode hidroponik. Namun sayang, saat itu hidroponik belum booming dan tak ada yang bisa mengajarinya.

Kemudian, modal nekat dia berangkat ke luar negeri untuk mempelajari teknologi pertanian, tujuannya supaya dia bisa menanam dengan mudah dan memenuhi kebutuhan sayurnya setiap hari.

Negara yang dia datangi seperti Belanda, Prancis, Amerika Serikat (AS), Israel, Jepang, Taiwan, China, Malaysia, Bangkok sampai Turki.

Hidup harus berani berubah .

http://www.berbahagia.com