Beberapa hari lalu saya menyaksikan kejadian yang cukup mengherankan. Persis di depan mata saya ada seorang tukang parkir yang mara-marah dan berkata kasar kepada seorang pengemudi mobil yang ingin memakirkan kendaraan. Sang pengemudi boleh saja sambil lalu mendengar umpatan sang tukang parkir, tapi saya tidak. Secara akal sehat sepantas nya sang tukang parkir senang dan bersyukur ketika ada orang yang mau memakirkan kendaraan di lahan yang merupakan wilayah “kekuasaannya”, karena hanya dengan begitulah dia akan mendapat uang yang sebagian merupakan haknya.

Saya tak kuasa menahan rasa penasaran. Oleh karenanya, setelah mendapat tempat di lokasi parkir lain, saya sengaja menghampiri tukang parkir tadi. Saya menunjukkan empati untuk membangun kedekatan dengannya. Setelah cukup dekat”, saya pun mengajukan pertanyaan yang mengganjal di hati saya, “Omong-omong, pengemudi tadi berbuat apa, kok abang marah-marah?”

“Ah enggak, Mas, saya cuma stres, abis dari tadi parkiran di sini ramai sekali. Capek saja kalau harus memarkirkan lagi. Lagi pula uang yang terkumpul hari ini sudah cukup,” jawab tukang parkir itu dengan santai. Hah, terlalu banyak uang membuat dia stres? Aneh!

Hal serupa dilakukan oleh Kang Mamud, pemilik warung di dekat rumah saya. Dia punya strategi unik dalam menjalankan usahanya yang cuma sepetak itu. Buka tiga bulan, tutup tiga bulan, begitulah strategi bisnisnya. Baginya, tiga bulan “berjuang” mengumpulkan uang di Jakarta cukup untuk digunakan bersama keluarga di kampung selama tiga bulan pula. Kadang malah tutupnya lebih lama daripada bukanya. Di kampung halaman konon dia hanya hidup pas-pasan bersama istri dan anak.

Jika sikap “cukup” seperti itu terus dibawa, seperti itu jugalah kualitas hidupnya hingga akhir hayat.

Sang tukang parkir dan Kang Mamud sering juga saya temu dalam kehidupan sehari-hari. Mereka adalah kelompok orang yang tidak punya etos kerja keras dan kerja ekstra. Sama seperti orang pada umumnya, mereka punya impian dan cita-cita itu jarang tercapai. Akibatnya, daripada “kecewa” mereka lebih memilih mengerdilkan impian daripada meningkatkan upaya.

Saya sekadar berandai-andai, mungkin mereka dan keluarga akan jauh lebih bahagia jika mereka bisa menghasilkan beberapa kali lipat dari penghasilan saat ini. Dengan penghasilan yang berlipat itu mungkin mereka bisa menyekolahkan anak di institusi pendidikan terbaik di kampung. Mungkin bahkan bisa membiayai orangtua ataupun mertua naik haji. Mereka juga mungkin bisa memberikan pakaian serta perhiasan indah yang diidam-idamkan oleh istri tercinta.

Mereka bisa melindungi keluarga besar dari biaya kesehatan yang sangat mahal dewasa ini. Dengan uang yang mereka miliki itu, mereka pun bisa secara aktif membuka lapangan pekerjaan bagi orang-orang di kampung. Masih banyak lagi hal luar biasa yang mampu mereka lakukan jika memiliki lebih banyak penghasilan dibandingkan hari ini.

Sayangnya, semua itu hanya pengandaian saya. Nyatanya Kang Mamud hanya membawa pulang hasil keringatnya secara “pas-pasan” setiap tiga bulan dan sang tukang parkir cukup puas dengan hasil kerja beberapa jamnya itu.

Kata “cukup” bagi sang tukang parkir dan Kang Mamud menyimpan kekuatan pengisap yang kuat dalam menahan laju pencapaian mereka untuk meraih jenjang kehidupan yang lebih baik. Kata “cukup” yang digunakan saat seseorang harusnya giat memanen menjadi kesalahan fatal yang kelak akan disesali ketika musim panen telah berlalu.

Saya setuju bahwa sebagai manusia kita harus bisa bersyukur. Akan tetapi, kata “cukup” yang merupakan cerminan sikap berpuas diri dan bersyukur hendaknya diletakkan di akhir “perjalanan”, bukan di tengah-tengah “tanjakan”. Kata “cukup” atau sikap berpuas diri membuat seseorang berhenti berusaha. Jika hal itu dilakukan saat seorang seharusnya justru memacu kecepatan seperti di tanjakan, bisa dipastikan dia akan tergelincir dan terjatuh.

Dalam buku Good to Great yang merupakan salah satu buku terlaris sepanjang sejarah karena telah dicetak lebih dari tiga juta eksemplar dan diterjemahkan ke puluhan bahasa, Jim Colins mengatakan, “Baik adalah musuh dari Hebat. Dan itulah salah satu alasan utama kita hanya mempunyai demikian sedikit yang menjadi hebat…. Hanya sedikit orang yang dapat memperoleh hidup yang hebat karena sebagian besar orang begitu mudah merasa puas dengan hidup yang baik. Sebagian perusahaan tidak pernah menjadi besar karena cukup puas dengan menjadi baik-dan itu adalah masalah utama mereka.”

Sang tukang parkir, Kang Mamud, atau siapa pun pasti akan jauh lebih sukses jika tidak cepat berpuas diri dalam berusaha. Momentum untuk meraih keberhasilan sangatlah langka, jika momentum itu sedang berlari menuju kita, janganlah berhenti untuk meraihnya. Setelah momentum itu berlalu, barulah kita berhenti sejenak untuk bersyukur dan menikmatinya, lalu mempersiapkan diri kembali untuk menangkap momentum berikutnya. Semoga Anda meraih hal-hal “hebat” dalam hidup, bukan sekadar “baik”!

http://www.berbahagia.com